https://amazing-population.com/bm3yV.0/Pp3_pdvkbTmqV/JfZ/DL0L2rOeDOEJ3ENMzvAaxSL/T/Y/4sMkTrcb3/MIDeUn
DAERAH  

Dari Rakor Advokasi HIV/AIDS: Pidie Catat 131 Kasus, Sekda Serukan Gerakan Kolektif

Sigli,haba RAKYAT I Kabupaten Pidie mencatat 131 kasus HIV/AIDS hingga Mei 2026. Dari jumlah itu, 55 orang meninggal dunia, 54 orang masih menjalani terapi antiretroviral (ARV), dan 18 orang lost follow up atau tidak lagi terpantau pengobatannya.

Data tersebut disampaikan Sekda Pidie Drs. Samsul Azhar saat mewakili Bupati Pidie pada Rakor Advokasi dan Sosialisasi Pencegahan serta Pengendalian HIV/AIDS yang digelar Dinas Kesehatan Pidie, Selasa (23/6/2026).

“Data ini bukan sekadar angka statistik. Di balik setiap kasus terdapat manusia, keluarga, masa depan, dan tanggung jawab bersama yang harus kita jaga. Angka-angka ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS harus diperkuat secara komprehensif dan berkelanjutan,” tegas Samsul Azhar.

Ia mengingatkan HIV ditularkan melalui 4 jalur utama: hubungan seksual berisiko tanpa perlindungan, penggunaan jarum suntik bergantian, transfusi darah terkontaminasi, dan penularan dari ibu ke bayi.

“Penting dipahami HIV tidak menular melalui jabat tangan, pelukan, makan bersama, toilet yang sama, maupun gigitan nyamuk,” jelasnya.

Mengacu visi global “Three Zeros” menuju Ending AIDS 2030, Sekda menekankan keberhasilan pengendalian penyakit ini butuh gerakan kolektif lintas sektor.

“Perlu kita tegaskan upaya pengendalian HIV/AIDS tidak mungkin hanya dibebankan kepada sektor kesehatan semata. Dinkes punya kapasitas layanan. Pendidikan karakter ada di sekolah. Pembinaan akhlak di keluarga. Penguatan nilai agama pada ulama dan teungku. Pengawasan sosial di masyarakat, sedangkan Kebijakan ada di tangan pemerintah,” ujarnya.

Karena itu ia mengajak Dinas Pendidikan memperkuat pendidikan kesehatan dan pembinaan karakter. Kementerian Agama, Dinas Syariat Islam, MPU, dan Badan Dayah diminta menguatkan dakwah. Para camat, tokoh masyarakat, dan aparatur gampong meningkatkan pengawasan sosial.

“Para orang tua agar lebih hadir dalam kehidupan anak-anak sebagai tempat berbagi, membimbing, dan memberi teladan. Karena sesungguhnya benteng pertama pencegahan HIV/AIDS bukanlah rumah sakit. Benteng pertama adalah keluarga, pendidikan, nilai agama, dan kepedulian masyarakat,” tegasnya.

Sekda berharap forum ini melahirkan komitmen nyata. “Mari kita perkuat edukasi. Mari kita perluas skrining dan deteksi dini. Mari kita tingkatkan kepatuhan pengobatan. Mari kita hilangkan stigma dan diskriminasi. Mari kita lindungi keluarga, menyelamatkan generasi muda, dan mewujudkan Pidie yang sehat, religius, bermartabat, dalam menyongsong Indonesia Emas 2045,” ajaknya.

Pada Rakor ini, Sekda didampingi Kadinkes Pidie dr. Muhammad Dwi Wijaya, dan turut dihadiri oleh pejabat Dinkes Aceh, Staf Ahli, Asisten, Kepala SKPK, Pimpinan Instansi Vertikal, Kabag, Camat beserta unsur Forkopincam, kemukiman, gampong, Kapuskesmas, kepala sekolah, serta tokoh agama, adat, dan pemuda.

Rakor ini diakhiri dengan penyampaian materi oleh para ahli dan sesi tanya jawab oleh para peserta dari berbagai kalangan yang berhadir.(AA/hR)


Eksplorasi konten lain dari Media haba RAKYAT |

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari Media haba RAKYAT |

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca