banner 325x300

banner 728x90

DAERAH  

Harga Tebus Pupuk Subsidi di Aceh Timur Makin Tinggi, Ini Penyebabnya kata Distributor

banner 120x600

Aceh Timur, haba RAKYAT – Distributor pupuk subsidi di Kabupaten Aceh Timur mengungkap harus mengeluarkan biaya besar untuk operasional di lapangan agar pupuk tetap tersedia untuk petani sesuai e RDKK di wilayah itu. Dampak dari besarnya biaya operasional tersebut menyebabkan harga tebus pupuk subsidi semakin tinggi dan petani ikut jadi sasaran.

Berdasarkan hasil investigasi media ini pada, Senin 1 Mei 2024 ke Aceh Timur mendapatkan informasi dari kios pengecer pupuk subsidi di jual diatas HET, dengan harga tebus Rp 150 ribu – 160 ribu per karung dengan berat netto 50 Kg. Hal itu sama hal nya pengakuan petani yang ada di wilayah Kecamatan Pante Bidari, Simpang Ulim dan Madat yang namanya tak mau di tulis media ini saat ditemui.

Mengingat pihak distributor pupuk juga memiliki rasa tanggung jawab mengawasi kios-kios pengecer agar tidak menjual pupuk subsidi di atas Harga Enceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah, maka media ini perlu melakukan konfirmasi ke pihak Distributor untuk kesimbangan dalam pemberitaan.

CV RIZA BERSAMANA selaku pihak distributor di wilayah tersebut ketika dikonfirmasi via handphone selulare nya menyangkal jika harga tebus pupuk subsidi oleh petani di wilayah itu dengan harga tinggi yakni 150-160 ribu perkarung.

Apa ada oknum martaman yang minta upeti? Atau ada oknum di kiri-kanan yang minta setoran ? Riza mengaku “tidak ada” Tapi ia tidak dapat mengelak saat ditanya penyebab besarnya biaya operasional. Mengingat berdagang barang subsidi rentan terjerat hukum jika kangkangi aturan, lalu mengapa harus minta bantuan biaya dari kios pengecer di wilayah itu?

“Saya rasa tak mungkin pengecer menjual 150 atau 160 ribu per sak pupuk, itu terlalu tinggi bang. Kalau dipihak kami distributor kami tebus dari produsen harganya sesuai HET, ya sesuai yang disepakati, jenis pupuk Urea Rp 2.175000 per ton dan NPK Rp 2,225000 per ton, itu harga tebus kios  sesuai dengan SPJB (kontrak),” ungkap Riza saat di hubungi wartawan seraya meminta maaf dengan ramah.

“Mohon maaf bang, kalau di tanya apakah kami tahu dilapangan ada pihak pengecer yang jual diatas HET dengan alasan biaya operasional, kami tidak tahu. Tapi abang selaku wartawan mungkin tahu seperti apa dilapangan, kalau ditanya masalah ada kutipan – kutipan, itu harus kami akui memang, ada sedikit bantuan dari kios-kios pengecer, tapi itu hanya untuk menutupi biaya operasional tambahan.

Karena posisi kami distributor hanya menyalurkan di dua Kecamatan saja tahun ini, yaitu Pante Bidari dan Simpang Ulim, kalau di Aceh Timur untuk jatah pupuk untuk kami paling sedikit, tapi biaya operasional tetap sama dengan wilayah lain, kata Riza.

Selain itu, pihak kios ada kontrak dengan kami, pihak kami ada kontrak dengan produsen dan ada tertera dalam perjanjian berapa biaya tebus, biaya langsir, ongkos bongkar muat dan segala macam. Hingga hasilnya tidak sesuai dengan kebutuhan dilapangan. Sebab itulah saat kami hitung-hitung memang minus. Jangankan dapat untung, malah modal harus kami keluarkan lagi, tapi demi petani supaya pupuk tetap ada dilapangan dan petani harus mendapatkan pupuk iya apa boleh buat, kejadian dilapangan memang demikian. 

Sebab itulah, kami harus kasih tahu ke kios kios pengecer, ada kejadian seperti itu dan juga perlu kami sampaikan berapa kekurangan nya, kami sepakati dengan kios untuk bantu biaya operasional. Jadi jika ada kabar harga pupuk UREA di kios 150 ribu per sak dan NPK 160 ribu/sak, saya rasa tidak setinggi itu. Tapi ada sedikit kami minta bantu lebih, itu nya untuk menutupi kebutuhan operasional. 

Jadi,  pihak kios dalam satu karung hanya menambah biaya Rp 3500 ribu kepada distributor, itu lah keuntungan kotor dari harga tabel yang ditetapkan pemerintah, dengan itulah kami bayar biaya bongkar muat para pekerja. Makanya saya bilang tadi minus, tapi yang penting pupuk tetap tersedia untuk petani,” papar Riza dengan nada serius.

Di singgung masalah pengurangan kuota pupuk subsidi oleh pemerintah? Riza mengatakan pengurangan kuota pupuk oleh pemerintah terjadi pada awal bulan Januari 2024. “Abang wartawan pasti tahu, karena sebelum tanyakan kepada saya, pasti abang juga pernah datang ke tempat lain. Terkait kekurangan kuota bagi kami sangat terasa, tahun lalu kami ada diberikan wilayah Madat.

Tapi pada  tahun ini hanya diberikan dua Kecamatan, yaitu Pante Bidari dan Simpang Ulim dan Kuota dikurangi, petani pun beli pupuk payah, karena tidak mau datang akibat jauh, di Aceh Timur kami boleh dibilang sebagai distributor kecil, bahkan nomor  dua paling kecil, kami hanya mendapatkan sekitar 400-500 ton per tahun”, pungkasnya.

Sebelumnya, AE (bidang pemasaran) PT Pupuk Iskandar Muda (PT PIM) Lhokseumawe Abdul Aziz saat mintai keterangannya terkait apakah benar ada pengurangan kuota pupuk oleh pemerintah? Ia mengaku ada pengurangan kuota pupuk subsidi pada awal Januari. Namun untuk kedepan sudah ada penambahan.

Baca juga :

“Benar alokasi pupuk untuk semua petani pada awal tahun 2024 di alokasikan tidak 100%, dan pada April 2024 Kementan mengeluarkan Permentan penambahan Alokasi pupuk yang di SK kan ke tiap-tiap Propinsi. Jadi sekarang kita masih menunggu SK Gubernur ke kabupaten, kemudian kita menunggu SK dari bupati berapa penambahan alokasi masing² petani. Pada intinya kita harus menunggu turunan nya dari pusat sampai ke tingkat kecamatan,” demikian tutup Abdul Aziz.
(Red/hR)

banner 325x300