Oleh: Agus Suriadi
Di balik hiruk-pikuk pembangunan kota yang terus bergerak maju, terdapat sebuah kawasan tenang, bernama Simpang Jernih, yang terletak di kawasan pedalaman Aceh Timur.
Di sini, waktu seakan berjalan lebih lambat, mengikuti irama alam yang masih terjaga keasriannya. Namun di balik ketenangan itu, tersimpan kisah perjuangan warga yang tulus dan penuh ketabahan.
Matahari menjadi penanda waktu. Sejak fajar menyingsing, sebelum cahaya matahari. Sepenuhnya menembus celah pepohonan hijau, warga Simpang Jernih sudah bangun.
Para lelaki berjalan berkelompok menuju ladang dan kebun sebagian berjalan kaki berjam-jam. Melewati jalan tanah yang licin bila hujan, berdebu bila panas.
Sementara para ibu, sejak subuh sudah sibuk di dapur sederhana, menyiapkan kebutuhan keluarga sekaligus merawat rumah dan ternak.
Tidak ada kemacetan, tidak ada kesibukan mengejar jadwal kantor, namun setiap detik waktu mereka terisi dengan kerja keras yang tak kenal lelah.
Jalan dan akses: tantangan setiap hari. Inilah realita yang paling dirasakan warga.
Jalan setapak dan tanah merah menjadi penghubung antar-gampong.
Saat musim hujan, jalanan berubah menjadi berlumpur dan licin, menyulitkan pengangkutan hasil bumi ke pasar. Sering kali hasil panen kopi, karet, dan buah-buahan tidak bisa keluar tepat waktu, sehingga harga yang diterima warga menjadi jauh lebih rendah dibandingkan harga di kota.
Belum lagi akses listrik yang belum merata dan sinyal telepon yang nyaris tak ada. Membuat komunikasi dengan dunia luar menjadi hal yang sulit dilakukan.
Kehidupan yang tetap hangat dan rukun. Meski fasilitas terbatas, semangat gotong royong tak pernah luntur.
Jika ada warga yang membangun rumah, sakit, atau mengadakan acara, seluruh tetangga akan datang membantu tanpa diminta.
Anak-anak berjalan beriringan menuju sekolah dengan seragam yang sederhana namun rapi, berharap ilmu yang mereka cari kelak bisa membawa perubahan bagi kampung halamannya.
Di sore hari, warga berkumpul di balai gampong, bercerita sambil menikmati kopi. Hasil kebun sendiri kebersamaan yang menjadi kekuatan utama mereka.
Harapan yang tak pernah padam. Warga Simpang Jernih tidak meminta kemewahan. Yang mereka harapkan hanyalah jalan yang baik, akses pendidikan dan kesehatan yang memadai, serta jaringan komunikasi yang bisa terhubung. Mereka adalah warga negara yang taat, pekerja keras, dan penuh harapan agar pembangunan benar-benar hadir hingga ke pelosok negeri.
Tak hanya berhenti di kota-kota besar. Simpang Jernih bukan daerah tertinggal, melainkan daerah yang sedang berjuang dan patut didengar serta diperhatikan.
Opini ini menggambarkan realitas kehidupan warga pedalaman Simpang Jernih, Aceh Timur.
Kesederhanaan yang mereka jalani bukanlah pilihan, melainkan keterbatasan yang mereka hadapi setiap hari.
Perhatian pemerintah dan pihak terkait sangat diharapkan agar kesetaraan
Pembangunan benar-benar dirasakan hingga ke pelosok negeri.
Pendidikan dan Kesehatan: Tantangan Terberat.
Dua hal yang paling sering membuat warga menghela napas panjang adalah sekolah dan kesehatan.
Anak-anak harus berjalan kaki berkilometer melewati hutan dan sungai untuk sampai ke sekolah terdekat.
Banyak yang harus berangkat sebelum matahari terbit dan baru pulang saat sore hari menjelang gelap.
Jika hujan deras, sungai yang meluap sering kali memaksa mereka berhenti berangkat.
Fasilitas sekolah pun sederhana buku kadang harus bergantian, dan tenaga pengajar yang menetap di sana masih sangat sedikit.
Sama beratnya saat ada warga jatuh sakit. Puskesmas terdekat berjarak berjam-jam perjalanan.
Jika terjadi keadaan darurat persalinan mendesak, sakit mendadak, atau kecelakaan warga harus menggotong pasien dengan tanduk atau berjalan berjam-jam.
Sebelum bisa mendapatkan pertolongan medis. Nyawa sering kali dipertaruhkan. Hanya karena jarak dan jalan yang tidak bisa dilalui kendaraan.
Sumber Hidup dari Alam, Namun Terbatas Jangkauan.
Tanah di Simpang Jernih subur, pepohonan hijau membentang luas.
Warga menanam kopi, karet, cokelat, serta berbagai buah dan sayur. Hasil kebun sebenarnya melimpah. Namun karena jalan rusak dan jauh dari pasar, para pedagang pengumpul bisa menekan harga serendah mungkin.
Warga terpaksa menjual murah hasil keringat mereka, padahal di kota harga bisa berkali-kali lipat lebih tinggi. Mereka bekerja keras, namun hasil yang diterima belum sebanding dengan lelahnya perjuangan.
Tetap Bermartabat, Tetap Berharap.
Meski hidup dalam keterbatasan, kemiskinan tidak membuat mereka kehilangan sopan santun, gotong royong, dan rasa syukur. Setiap tamu yang datang akan disambut dengan senyum dan secangkir kopi hangat.
Mereka tidak meminta belas kasihan, melainkan keadilan dan perhatian.
Mereka ingin hidup setara dengan warga di kota bisa berjalan di jalan yang mulus, bisa berobat dengan mudah, dan bisa menyekolahkan anak hingga tinggi tanpa takut terhalang sungai dan hutan.
Pembangunan Harus Sampai ke Ujung Negeri.
Simpang Jernih
Adalah satu dari sekian banyak titik di peta Indonesia yang sering kali terlupakan.
Pembangunan tidak boleh hanya terlihat di kota besar, di jalan raya utama, atau di tempat yang mudah dilihat.
Pembangunan yang sejati adalah ketika saudara kita di pedalaman pun bisa merasakan manfaatnya ketika jalan menghubungkan, ketika listrik menerangi, ketika sinyal menghubungkan, dan ketika harapan menjadi kenyataan bagi semua orang, tanpa terkecuali.
“Simpang Jernih bukan daerah terpencil yang terbuang. Itu adalah bagian dari tanah air yang kaya, yang penduduknya cinta tanah air, dan berhak mendapatkan perhatian negara. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian di dalam diam.
Kepada pemerintah daerah maupun pusat, mari kita buka mata dan telinga.
Dengarkan suara warga Simpang Jernih. Bangunlah akses, fasilitas, dan perhatian hingga ke pelosok terdalam. Karena ketika satu bagian negeri tertinggal, maka belum lengkaplah kemajuan kita semua. (Penulis: Agus Suriadi)
Eksplorasi konten lain dari Media haba RAKYAT |
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.













