DAERAH  

Ketua AMBESP : Oknum PMI Banda Aceh Jangan Jadi Pengkhianat Bagi Masyarakat Aceh

banner 120x600

Aceh Utara, haba RAKYAT | Ketua Lembaga Adat Makmu Beusare Energi Samudra Pase (Ambesp) Mahmuddin, biasa disapa dengan nama panggilan Din PangTeungoh, angkat bicara terkait pengiriman darah dari Aceh ke Tangerang, Jum’at (13/05/2022).

Din Pang Teungoh menilai pengiriman darah keluar Aceh itu suatu penghianatan terhadap masyarakat Aceh.

“Kalian Oknum PMI Banda Aceh yang Menjual Darah ke provinsi lain disaat di kabupaten dan kota di Aceh, sering habis stok, kalian kami sebut pengkhianat rakyat Aceh, dimana kita tahu selama ini di kabupaten dan kota sering habis stok darah sehingga di waktu masyarakat membutuhkan darah harus mencari si pendonor baru,” ungkap Din Pang.

“Saya berharap untuk kedepan jangan ada lagi hal hal seperti ini, dalam hal ini harus ada pengawasan betul betul, kasian rakyat Aceh sering, capek capek mendonor waktu memerlukan darah malah kosong”.

Untuk diketahui dikutip dari media HARIANRAKYATACEH.COM, sebanyak 2 ribu kantong darah yang terkumpul dari hasil donor masyarakat dikirim ke Kota Tangerang. Fakta tersebut terungkap setelah beberapa pengurus PMI Kota Banda Aceh melakukan sidak terkait adanya kecurigaan terhadap stok darah di Aceh, pada Maret lalu.

Seketaris PMI kota Banda Aceh Syukran, mengungkapkan, sudah 2 ribu kantor darah dikirim ke Kota Tanggerang dari periode Januari, Febuari, dan April di tahun 2022.

“Kita tidak pernah diajak komunikasi dalam hal pengambilan keputusan maupun pengiriman darah keluar,” ujar Syukran kepada awak media, Rabu (11/5).
Berdasarkan informasi yang ia dapat, darah yang dikirim tersebut dikenakan biaya Rp. 300 ribu perkantong.

Dirinya juga mengaku tidak mengetahui dasar pengiriman dua ribu kantong darah tersebut ke luar provinsi, karena sepengetahuannya tidak ada perjanjian kerjasama sebelumnya dan permintaan dari pihak di Kota Tangerang.

Meski tidak menyebutkan siapa yang bermain, namun pihaknya, kata Syukran, sudah melaporkan oknum tersebut ke PMI provinsi Aceh.

”Saya menduga ini ada oknum. kejadian ini juga sudah saya laporkan ke PMI Aceh pada April kemarin. Semoga ada tindakan cepat,” ujarnya.

Ketua Bidang Pelayanan Kesehatan Sosial dan UDD PMI Kota Banda Aceh, dr Natalina menuturkan, menyanyangkan terkait ada kejadian tersebut. Ia menuturkan pengiriman darah keluar Aceh atau provinsi lain memang dibolehkan, asalkan stok darah darah di Aceh harus mencukupi terlebih dulu, dan dilakukan sesuai prosedur yang benar.

Hal tersebut mengacu pada aturan Permenkes No 91 tahun 2015 terkait biaya pengganti pengelolaan darah, yakni Rp 350 per kantong darah dan sama seluruh Indonesia.

Kalau dibilang mencukupi, seharusnya tidak ada lagi pesan berantai yang dikirim tentang kebutuhan darah. Selain itu juga kebutuhan penderita Thalasemia yang memang harus tertangani dengan cepat, tanpa harus menunggu. Demikian pasien kanker mereka juga harus menunggu, yang seharusnya mereka tak harus menunggu dan dapat tertanggani dengan cepat.

Dikatakan Natalina, berdasarkan data dari tahun 2018 dari sentra Thalasemia, ada 750 penderita Thalasemia yang masih melakukan tranfusi rutin di rumah sakit Zainal Abidin.

“Artinya kalau satu orang memerlukan satu sampai tiga kantong darah, maka paling tidak setiap bulan kita harus membutuhkan 1500 kantong darah untuk memenuhi pasien thalasemia. Itu belum lagi kepada paisen korban kecelakaan dan pendarahan karena melahirkan,” jelasnya. (Helmi)

banner 325x300