
Sigli,haba RAKYAT I Logo Hari Jadi (Uroe Lahe) ke-515 Pidie Tahun 2026 (1511 – 2026) ternyata bukan sekadar visual. Tipografi di balik desainnya, tersimpan cerita panjang tentang sejarah, keislaman, budaya, dan harapan masa depan Pidie dengan semangat “Meutaloe Wareh, Pidie Meuhareukat”.
Juru Bicara Bupati Pidie, Andi Firdhaus, S.H., CPM., menjelaskan logo tahun ini dirancang sebagai wajah baru Pidie yang mengakar pada sejarah.
“Logo dirancang sebagai fondasi dalam memperkuat kulturisasi budaya, harmonisasi serta kolaborasi antar elemen masyarakat menuju Pidie yang lebih baik di masa depan,” jelas Andi.

Makna Meutaloe Wareh, Pidie Meuhareukat. Dua frasa menjadi roh peringatan tahun ini
Meutaloe Wareh adalah kehendak untuk hidup secara kekeluargaan, penuh kepedulian, cinta kasih sebagai nilai yang diwariskan turun temurun untuk membangun Pidie yang harmoni, damai dalam tali agama Allah.
Sementara Pidie Meuhareukat adalah filosofi hidup masyarakat Pidie yang berbasis alam dan pertanian sebagai penopang hidup, sebagaimana termaktub dalam logo Pemkab Pidie “Pang Ulee Buet Ibadat, Pang Ulee Hareukat Meugoe”, tekad mewujudkan Pidie yang makmur dalam limpahan karunia bumi dan keridhaan Allah.

Bulan Sabit & Bintang
Merupakan simbol universal yang saling dikaitkan dengan peradaban muslim. Bulan Sabit melambangkan kemajuan dan kehidupan baru. Sedangkan Bintang melambangkan cahaya petunjuk ilahi. Kuning yang menjadi dasar warna lambang Bulan Sabit dan Bintang bermakna kedaulatan kejayaan, kemuliaan, dan kesucian sultan (penguasa).
Ada Mihrab Sultan di Dalam Logo
Salah satu elemen paling kuat adalah Mihrab Sultan. Ini bukan hiasan, tapi simbol sejarah dan keislaman Pidie.
Mihrab ini merupakan warisan peninggalan Sultan Iskandar Muda yang ada di Masjid Besar Labui, Kecamatan Pidie. Keberadaannya menjadi simbol kejayaan peradaban Islam, kepemimpinan, dan identitas budaya yang mengakar kuat di Pidie.
Angka 515: Perjalanan Panjang Peradaban
Angka 515 merepresentasikan usia Pidie (18 September 1511 – 18 September 2026). Lebih dari sekadar angka, ini menjadi simbol perjalanan panjang membangun peradaban, refleksi capaian pembangunan, dan komitmen untuk terus tumbuh.
Kupiah Meukutop: Kehormatan dan Keberanian
Elemen Kupiah Meukutop melambangkan kepemimpinan, kehormatan, dan keberanian masyarakat Pidie dalam menjaga persatuan dan nilai luhur warisan leluhur. Ini juga representasi kekayaan budaya Aceh yang terus dijaga.
Boh Mulieng dan Padi: Simbol Makmur
Ada juga Boh Mulieng atau melinjo dan padi. Keduanya melambangkan kemakmuran, kebersamaan, pertumbuhan, serta potensi lokal yang terus berkembang untuk kesejahteraan rakyat.
Warna yang Tidak Asal Pilih
Palet warna logo terinspirasi dari Kupiah Meukutop:
- Merah: Keberanian dan tanggung jawab
- Hijau: Harapan dan keseimbangan
- Kuning: Optimisme dan energi membangun daerah

“Secara keseluruhan, logo ini tidak hanya identitas visual, tapi simbol perjalanan sejarah, kekuatan budaya, nilai keislaman dan semangat kebersamaan masyarakat,” tutup Andi.

Dengan semangat “Meutaloe Wareh, Pidie Meuhareukat”, Hari Jadi ke-515 diharapkan menjadi momentum memperkuat persatuan, melestarikan warisan budaya, dan membangun Pidie yang lebih maju, harmonis, dan sejahtera.
Diketahui, Uroe Lahe ke-515 Pidie jatuh pada 18 September 2026, sedangkan perayaan kegiatan selama empat hari dari Rabu 16 hingga Minggu 20 September 2026 yang di pusatkan di Halaman Gedung PCC Sigli, dan beberapa lokasi seputaran Kota Sigli.
Perayaaan ini menampilkan berbagai seni dan budaya pedir yang bernuansa islami dari masa lampau hingga di era-modern saat ini. Maulid Akbar dan Santunan Yatim, serta kegiatan sosial seperti operasi bibir sumbing merupakan rangkaian kegiatan pada acara yang dihadiri puluhan ribu masyarakat dari berbagai pelosok Pidie dan luar daerah sejak di mulai pada Rabu 16 September 2026.(AA/hR)
Eksplorasi konten lain dari Media haba RAKYAT |
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





