Safari Subuh dan Zikir Bersama Tadzkiratul Ummah (TU) Aceh kembali hadir, minggu ini di Masjid At-Taqwa, Gampong Meunasah Rambot, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara. (Foto/ hR/ Razali)
Aceh Utara, haba RAKYAT
Ketika sebagian manusia masih larut dalam lelap, sebagian lainnya memilih bangun, mengambil wudhu, dan melangkahkan kaki menuju rumah Allah. Dalam sunyi menjelang fajar itulah, Safari Subuh dan Zikir Bersama Tadzkiratul Ummah (TU) Aceh kembali hadir, minggu ini di Masjid At-Taqwa, Gampong Meunasah Rambot, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara.
Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana khusyuk dan penuh keakraban. Bukan sekadar pertemuan rutin, Safari Subuh menjadi ruang untuk meneguhkan kembali hubungan manusia dengan Allah, sekaligus mempererat ukhuwah di antara sesama umat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan shalat Subuh berjamaah yang diimami oleh Tgk. Jamaluddin Ismail, yang akrab disapa Walidi. Beliau merupakan Imam Besar Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon sekaligus Ketua Dewan Pembina Tadzkiratul Ummah Aceh.
Usai shalat, suasana masjid tetap dipenuhi ketenangan. Acara kemudian dipandu oleh Tgk. Irfan Hadi Lhoksukon, salah seorang pembawa acara ternama di Aceh Utara, yang mengantarkan setiap rangkaian kegiatan dengan tutur kata yang tertib dan penuh penghormatan.
Suasana semakin syahdu ketika jamaah bersama-sama mengikuti zikir dan doa yang dipimpin oleh Walidi, didampingi Tgk. Zulkarnaini Ismail dari Langkahan, Tgk. Saifullah, dan Tgk. Amir.
Lantunan zikir yang memenuhi ruang masjid seakan menjadi pengingat bahwa di tengah riuhnya kehidupan dunia, ada satu tempat manusia selalu kembali kepada Allah SWT.
- Lima Kunci Kemenangan dan Kebahagiaan
Momen spiritual tersebut kemudian dilanjutkan dengan tausiah yang disampaikan oleh Tgk. Suryadi, S.Pd.
Dalam tausiyahnya, Tgk. Suryadi menyampaikan lima perkara yang menjadi jalan menuju kemenangan, kebahagiaan, dan kesuksesan, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.
Pertama, senantiasa berzikir kepada Allah SWT dengan mengucapkan Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah. Zikir bukan hanya rangkaian lafaz di lisan, tetapi pengingat agar hati tidak pernah jauh dari Allah.
Kedua, ketika ditimpa musibah, seorang mukmin hendaknya mengucapkan Inna lillahi wainna ilaihi raji’un. Sebuah pengakuan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan kepada-Nya pula seluruh kehidupan akan kembali.
Ketiga, ketika memperoleh nikmat, hendaknya selalu mengucapkan Alhamdulillah. Sebab nikmat yang disyukuri akan menghadirkan ketenangan, sementara rasa syukur menjadikan hati mampu melihat bahwa setiap kebaikan adalah karunia dari Allah.
Keempat, ketika hendak memulai suatu perkara, biasakan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama Allah, setiap ikhtiar diarahkan agar memiliki keberkahan dan berada dalam jalan yang diridai-Nya.
Kelima, ketika lupa atau melakukan kekhilafan, segera mengucapkan Astaghfirullahal’azim. Karena manusia tidak pernah luput dari salah dan lupa, sementara pintu ampunan Allah selalu terbuka bagi mereka yang kembali dan memohon ampun.

Lima perkara tersebut, menurut Tgk. Suryadi, sejatinya bukan sekadar ucapan yang keluar dari lisan. Ia harus menjadi jalan hidup: zikir ketika lapang, sabar ketika diuji, syukur ketika diberi, doa ketika memulai, dan istighfar ketika tersandung oleh kesalahan.
- Menutup Subuh dengan Pesan yang Menyentuh
Rangkaian Safari Subuh kemudian ditutup dengan pesan dan kesan dari Sekretaris Jenderal Tadzkiratul Ummah Aceh, Tgk. H. Samsul Bahri, SHI yang lebih dikenal Abati Samsul.
Dalam penyampaiannya, ia memberikan pesan yang menyentuh hati jamaah tentang pentingnya menjaga semangat kebersamaan, memperkuat ukhuwah, serta menjadikan Safari Subuh bukan sekadar agenda organisasi, tetapi sebagai ikhtiar bersama untuk menghidupkan masjid dan menghidupkan hati.
Safari Subuh, pada akhirnya, bukan hanya tentang siapa yang hadir dan siapa yang berbicara. Ia adalah tentang langkah-langkah kecil yang menuju kebaikan, tentang hati yang dipertemukan dalam doa, dan tentang fajar yang menjadi saksi bahwa masih ada hamba-hamba Allah yang memilih bangun untuk mengingat-Nya.
Di Masjid At-Taqwa pagi itu, Subuh bukan sekadar pergantian malam menuju siang. Ia menjadi simbol tentang harapan.
Bahwa selama masjid masih didatangi, zikir masih dilantunkan, doa masih dipanjatkan, dan ukhuwah masih dirawat, maka selalu ada cahaya yang dapat dinyalakan di tengah kehidupan.
Sebab terkadang, perubahan besar tidak dimulai dari gemuruh suara, tetapi dari langkah sunyi menuju masjid ketika fajar baru saja menyingsing. Dan dari sanalah, ikhtiar untuk menjadi umat yang lebih baik kembali dimulai. (Lie)
Eksplorasi konten lain dari Media haba RAKYAT |
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





